“Surat Kecil Untuk Ayah”
“Apapun yang terjadi, entah itu baik maupun buruk, cobalah untuk selalu mengungkapkannya. Jika kita bersalah, meminta maaflah. Karena seburuk-buruknya kesalahan, jika kita jujur, semua akan baik-baik saja. Tetap ikuti katahati kita. Karena saat hati berbicara maka disitu keajaiban tercipta”
Pagi itu suara burung berkicau dengan
indah. Udara pagi merasuk ke paru-paruku dengan begitu segarnya. Suara
kendaraan mulai sedikit terdengar bising di diluar sana. “astagaa… baru jam 6..”
kataku sedikit malas. Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, setiap kali
bangun tidur tujuan utama adalah Handphone. Kuraih benda mungil itu. Satu pesan
masuk dari teman dekatku, Awan.
“Selamat pagi ninda.. jangan lupa nanti
jam 7 kita ke CFD ya?” isi dari pesan itu.
Oh Tuhan.. baru ingat kalau ini hari
minggu. Aku ada janji sama Awan mau jogging di Car Free Day. Segera saja aku mengambil
handuk dan mandi. Karena terburu-buru, aku sampai tidak membalas pesan Awan.
Selesai mandi, aku cari baju
kesayanganku. Ahh… ternyata masih belum aku setrika. Kulirik jam dinding
kamarku, jarum jamnya menunjukkan pukul 06.35. Aku setrika cepat-cepat baju itu.
15 menit kemudian akupun selesai ganti baju dan siap untuk berangkat dengan
gaya yang sangat sederhana dan tomboy. Celana jeans, baju ham dan rambut yang dikuncit
buntut kuda.
Aku raih kembali benda mungil yang
sedari tadi aku cuekin. Dua pesan masuk dari Awan.
“Nin.. maaf ya aku nggak boleh berangkat
pagi-pagi sama mama” isi dari pesan Awan.
Ya Tuhan, jadi usaha terburu-buruku
sia-sia dong? Lalu gayaku kayak di film-film saat nyetrika dan ganti baju
sambil lari-lari tadi percuma? Huuh..
“iya ngga papa. Kalau begitu aku tidur
lagi dah” balasku,
jujur aku sedikit kecewa. Bipp..bipp..
balasan dari Awan
“loh jangan tidur nin.. kita jadi kok ke
CFDnya. Tapi agak siangan. Ngga papa ya?” isi balasannya.
Karena aku sudah terlanjur badmood, aku
biarkan saja pesan itu. Aku taruh hp itu di bawah bantal tidurku.
“Tuuutt…tuuutt….” Getar hp
mengagetkanku. Aku tertidur lagi ternyata. Kuambil benda itu. Lima pesan masuk
dari Awan yang isinya sama.
“Nin.. aku sudah sampai di kost. Kalau
kamu mau menghargai usahaku bilang ke mama berangkat jam segini, ayo ikut aku
ke CFD. Kalau kamu ngga mau juga ngga papa. Aku ngga maksa dan aku bisa
berangkat sendiri” isi pesan Awan.
Sebenarnya aku malas untuk berangkat sesiang
ini ke CFD, akan tetapi karena perjuangan Awan. Akupun akhirnya ikut ke CFD.
“iya aku ikut kamu, kamu jemput aku 10 menit lagi” balasku ke Awan. Segera aku
bersiap untuk yang kedua kalinya, tak lupa aku membawa kamera DSLR pemberian ayahku.
30 menit kemudian aku dan Awan sudah sampai di CFD. Kami disuguhi
dengan pulau manusia yang begitu ramainya. Ada yang sedang berlari-lari kecil,
ada yang sedang memainkan alat musik, ada yang sedang menjajahkan dagangannya,
ada yang sedang narsis foto-foto ada pula yang sedang memamerkan binatang
peliharaannya. Kalau difikir-fikir, CFD ini adalah tempat rekreasi termurah
dihari minggu. Bagaimana tidak, di CFD sudah ada tempat foodcourtnya, sudah ada
hiburan atraksinya, sudah ada tempat wahana-wahananya bahkan sudah ada kebun
binatangnya…
“hei, ngapain kamu pakai celana jeans?”
kata Awan mengagetkanku.
“memangnya kenapa?”jawabku sedikit heran
“kemarin kan niatnya mau jogging, emang
ada orang jogging pake celana jeans?” Awan terkekeh
“oh, iya ya?” aku pun tertawa. Sekilas
aku lihat pakaian Awan, celana pendek dan baju kaos. Dan aku semakin terkekeh,
dilihat-lihat lucu juga Awan.
“biarin dah, sudah poin 1-1 kan?”
lanjutku sambil mengejek Awan mengingat keterlambatannya tadi
“elaaah… iya miss pussy kita impas” jawab
Awan. Pussy adalah panggilan kesayangan dia ke aku
“Ngomong-ngomong ngapain aku bawa kamera
ya? Terus kamera kamu kemana?” deg.. aku mempunyai firasat yang sulit
diungkapkan, semacam perasaan cemas. Tapi aku mencoba menghiraukannya.
“battery kameraku habis, lagian ngapain coba bawa kamera DSLR? Mending kamera
pocket saja.lebih simple”jawab Awan
“ah.. yasudah, rute selanjutnya kita
kemana? Capek ini kaki jalan terus” tanyaku sedikit memalingkan pandangan ke
kakiku yang sudah mulai pegal-pegal
“itulah alasan aku mengajak kamu kesini.
Biar kamu sehat nin, masak gak pernah olahraga. Oke kita bakalan istirahat
kalau kamu sudah berkeringat, hehe” ledek Awan. Itu lelaki memang suka
menceramahiku karena aku jarang bahkan nggak pernah olahraga
“jahat amat yaa….” Jawabku sambil
menyusul Awan yang jaraknya agak jauh didepanku.
Kita pun terus melanjutkan perjalanan.
Karena aku capek, sesekali aku bergantian membawa kamera dengan Awan. Langkah
kita terhenti saat aku merayu Awan untuk masuk ke tempat makanan dan jajanan,
foodcourt.
Sejak pertama masuk area foodcourt, kita
disuguhi dengan aroma-aroma nikmat makanan. Entah mengapa aku nggak tertarik
makan makanan yang mengandung unsur nasi. Aku cuma ingin beli potatos slide,
minuman dan beberapa manisan buah saja. Setelah mendapat apa yang aku inginkan,
kita pun mencari tempat duduk. Karena aku sudah nggak kuatnya capek, aku mampir
sebentar duduk di dekat penjual pakaian, kurang lebih 5 menitan. Setelah itu
kita pindah ke tempat yang lebih rindang lagi. Di pinggir jalan tepatnya
dibawah pohon palm yang lebat.
“kamu itu aneh ya nin, masih juga belum berkeringat.”
Tanya Awan heran
“terus? Mau bilang aku nggak sehat? Mau
ngancam nggak bakalan pulang kalau aku nggak keringetan gitu? Iya?” tanyaku
bertubi-tubi yang cuma dibalas kekehan oleh Awan.
“ehh.. cerita dong. Masak diem-dieman
kayak gini” lanjutku
Awan pun menceritakan saat dia minta
izin ke mamanya berangkat pagi-pagi hanya demi ke CFD bersamaku. Karena terbawa
suasana tertawa, kita pun bergantian cerita-cerita dan tertawa bersama. Sampai
pada akhirnya..
“Wan, udah yok pulang. Tuh liat,
stand-stand sudah pada mau ditutup. Terus aku juga sudah berkeringat” pintaku
sambil menunjukkan buliran keringat yang menetes di pipiku.
“iya..iya.. kamu juga belum makan nasi
kan? nanti kita mampir dulu ke tempat biasa ya?” jawabnya seraya mengusap
keringat yang ada di pipiku.
“sip.. ayo kita lanjutkan rute kita
kapten” kataku sambil hormat layaknya upacara bendera. Akupun bangkit dan
disusul oleh Awan.
“eitss.. tunggu tunggu… kayaknya ada
yang ketinggalan. Kameraku mana?” tanyaku ke Awan
“lho, kameranya kan kamu yang bawa Nin,”
jawab Awan
“nggak, kamu tadi yang bawa. Jangan
bercanda deh ya. Kemana kameraku Wan?? Nggak lucu loh ya” tanyaku ke Awan
setengah meledek
“beneran Nin, aku nggak bawa kamera
kamu. Orang tadi pas habis beli minum
kamu yang bawa kameranya” tegas Awan
“yang bener Wan? , terus sekarang
kameraku dimana?” akupun mulai panik dan mencari-cari disekitar tempat duduk
kita tadi
“kameraku dimana Wan?” lanjutku tambah
panik dan sedikit berkaca-kaca sambil mencari-cari disekitar tempat duduk tadi.
“Nin, sekarang kamu tenang dulu. Kamu
duduk, terus kamu inget-inget tadi kamu taruh mana kameranya?” bujuk Awan
“TENANG? Aku nggak bisa tenang. Aku
nggak tahu. Aku nggak bawa kamera…….” Akupun semakin dan semakin panik
“oke sekarang kita berpencar cari
kameranya ya?, kamu ke tempat pertama kali kita duduk, aku cari disekitar sini”
usul Awan
Saking paniknya aku langsung
mencari-cari di tempat duduk dekat penjual pakaian tadi tanpa menjawab usul
Awan. Namun, nggak aku temukan kamera itu. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku
cari lagi sambil melihat-lihat orang yang membawa tas kamera. Siapa tahu sudah
diselamatkan oleh mereka, atau kalau tidak diambil oleh mereka. Namun tak kunjung
aku temukan. Fikiranku semakin kacau. Akupun kembali ke tempat duduk tempat
Awan mencari kamera.
“gimana Nin, ada??” tanya Awan. Terlihat
bahwa dia juga panik.
“nggak ada Wan..” jawabku lemas seraya
duduk dan menangis.
“Sudah Nin, kamu tenangin diri kamu
lagi. Kamu ingat-ingat lagi” usul Awan.
Akupun hanya diam dan menangis.
Disela-sela itu aku juga mengingat-ingat kembali. Ya… aku ingat, aku
meninggalkannya di tempat duduk dekat penjual pakaian itu. Aku pun bangkit dan
kembali mencari di tempat duduk dekat penjual pakaian. Awan pun juga
menyusulku.
“Bu, lihat kamera disekitar sini nggak?”
tanyaku kepada ibu penjual pakaian itu.
“kamera apa mbak, nggak ada kamera
disekitar sini mbak” jawab ibu itu heran.
“Ya Allah….” Kataku lirih
“Tadi mbak tinggal apa gimana mbak?”
tanya ibu penjual pakaian
“tadi saya lupa bawa bu,” jawabku seraya
melihat ke sekitar tempat duduk itu
“nggak ada kamera mbak, lain kali mbak
hati-hati. Kalaupun mau nitip, titipkan ke penjualnya saja mbak. Karena disini
nggak ada petugas keamanan yang keliling mbak” nasehat ibu itu.
Awan pun ikutan panik. Sepertinya dia
nggak tahu apa yang musti dia perbuat saat aku menangis. Aku pun menangis
sejadi-jadinya di pundak Awan. Mungkin orang yang melihat kita pasti mengira
kita sedang bertengkar.
“sudah Nin, jangan nangis terus.” Awan
mencoba menenangkanku
“bukan kamera yang aku tangiskan Wan,
tetapi usaha ayahku untuk membelikan kamera itu. Kamera itu nggak murah Wan.
Pasti ayahku kerja panas-panasan, hujan-hujanan untuk membelikanku kamera
itu..” jawabku sambil terisak
“kamu tenang dulu, nanti kita cari jalan
keluarnya sama-sama Nin. Kamu kan kesini sama aku jadi aku juga ikut tanggung
jawab mengenai hal ini” tegas Awan.
Selama 15 menitan aku menangis di pundak
Awan. Hari semakin panas, dan stand-stand yang ada di CFD itu sudah mulai
tutup. Setelah puas menangis aku pun mencoba mengajak Awan untuk pulang.
“Wan, aku sudah tenang. Ayo kita pulang
yok? Aku fikirin gimana cara ngomongnya sama ayah nanti di kost, atau bahkan
mungkin aku diam tanpa ngomong ke ayah” pintaku sedikit terisak
“untuk saat ini aku masih belum bisa
berfikir jernih Wan. Masalah gantiin kamera itu sudah pasti aku akan ganti.
Yang aku bingungkan bagaimana cara ngomong ke ayah” lirihku ke Awan
“nanti aku bantuin Nin. Yakin kita
pulang nih??” tanya Awan
“iya Wan, aku ingin segera sampai kost”
jawabku hampir tak terdengar
“kamu nggak makan dulu?” tanya Awan lagi
“di kost sudah ada makanan kok” jawabku
bohong. Bagaimana aku bisa makan dalam situasi kayak gini. Awan itu aneh, tapi
aku tahu dia sangat khawatir padaku.
Kita pun pulang kerumah tepatnya rumah
kost. Sepanjang perjalanan aku menangis. Awan pun hanya diam dan sesekali
mengelus tanganku. Karena saking banyaknya airmata yang keluar, baju Awan pun
basah oleh airmataku itu. Maafkan aku Wan.
Sesampai di kost aku pun langsung masuk
kamar. Aku tumpah ruahkan lagi air mata itu serasa nggak pernah habis. Sesekali
aku bayangkan wajah ayahku saat mengetahui kameraku hilang. Beliau pasti
memarahiku, beliau pasti kecewa padaku. Ayah… maafkan anakmu yang ceroboh ini.
Dua hari kemudian aku pulang ke rumah.
Aku sudah membuat keputusan bahwa aku nggak akan bilang apa-apa ke ayah
mengenai kameraku yang hilang. Aku akan bilang saat aku sudah menggantinya
nanti.
Sesampai dirumah, wajah seseorang yang
kulihat pertama kali adalah wajah ayahku. Matanya yang senduh dihiasi
garis-garis keriput, kulitnya yang berwarna coklat menandakan betapa ayahku
bekerja keras selama ini. Ya Allah.. aku semakin merasa bersalah ke ayah.
“iya ayah,,” jawabku sambil mencium
tangan ayah. Entah mengapa aku ingi mencium tangan ayah lebih lama.
“yasudah, ganti pakaianmu lalu makanlah.
Ibu memasak sayur kesukaan kamu” nasehat ayah
Akupun masuk kamar dan lagi-lagi menumpah
ruahkan tangisku untuk yang kesekian kalinya. Namun ini sangat berbeda karena
aku melihat wajah senduh ayah secara langsung tanpa membayangkannya.
Aku bingung, bagaimana bisa aku sejahat
itu ke ayahku yang begitu baiknya ke aku. hati dan otakku bentrok. Hatiku
bilang untuk aku jujur mengenai kameraku, tetapi otakku bilang untuk
merahasiakan karena kasihan ke ayah. Ya Tuhan… apa yang harus aku perbuat. Aku
ingin sekali jujur tapi bagaimana bisa aku mengungkapkannya secara langsung ke
ayah?.
Akhirnya aku memutuskan untuk menulis
surat ke ayah, surat permintaan maafku ke ayah.
Dear
Ayahku tercinta,
Maafkan
anakmu ini yang telah lalai, maafkan anakmu ini yang telah ceroboh. Aku telah
menghilangkan kamera pemberian ayah. Maafkan aku yah, aku adalah pecundang yang
nggak bisa bicara langsung ke ayah. Lidah ini tak sanggup untuk mengeluarkan
dan menyusun kata permintaan maaf ini ayah. Bukan berarti aku tidak menghargai
pemberian dan usaha keras ayah, namu aku sungguh takut untuk bilang ayah. Maafkan
aku yah aku begitu ceroboh menghilangkan dan tidak menjaga barang pemberian
ayah. Aku belum bisa menjaga amanat ayah. Tetapi aku berjanji yah, aku akan
berusaha keras untuk mengganti kamera itu. Jadi maafkan anakmu ini ayah.
Maaf…maaf..maaf..
Anakmu,
Ninda
Aku masukkan kertas itu ke amplop
kecilku. Tak lupa dibagian depan amplop aku tuliskan “Untuk Ayahku”. Aku kemas
sedemikian rupa lalu aku menaruhnya diatas meja kamar ayah. Berharap ayah
membacanya.
Keesokan paginya setelah sarapan pagi,
aku dipanggil ayah keruang keluarga. Deg… aku merasa pasti ayahku sudah membaca
surat itu. Aku siap mendengar marahan ayah. Aku siap dipukul ayah. Aku siap..
“Nak, duduklah…” ayahku membuka
pembicaraan kami. Akupun duduk dengan wajah yang masih menunduk.
“Maafkan Ninda yah, Ninda salah, Ninda
ceroboh, Ninda nggak bisa menjadi anak ayah yang baik. Ninda rela ayah pukul
karena memang Ninda salah. Ninda rela ayah hukum karena itu sudah menjadi
resiko Ninda. Tapi maafkan Ninda yah.. Ninda janji, Ninda akan mengganti kamera
itu yah,” kataku tanpa basa-basi sambil meneteskan air mata penyesalan
“Ninda, jujur ayah marah sama kamu nak.
Tetapi ayah akan lebih marah lagi kalau kamu nggak jujur. Ayah lebih suka kamu
bilang semua yang terjadi tanpa ada terkecuali. Untuk masalah kamera yang
hilang, itu berarti masih bukan rezeki kamu nak. Ayah memberikannya dengan
ikhlas. Jikalau pada akhirnya begini, ya mau bagaimana lagi. Ditangisi?
Disesali? Marah-marah sama kamu? Ya nggak bakal bikin kamera itu kembali. Kita
ikhlaskan saja, belajar menjadi sosok manusia yang ikhlas.” Nasehat ayahku
panjang lebar
“jadi ayah maafin Ninda?” tanyaku
sedikit lega. Kali ini aku berani menatap wajah senduh ayah.
“Asal kamu nanti berjanji tidak ceroboh
lagi” ungkap ayah
“Ninda janji yah, ninda sayang ayah.
Terimakasih ayah” janjiku seraya memeluk ayah.
“Iya nak sama-sama” jawab ayahku sambil
tersenyum. Aku lega, aku bangga. Akhirnya masalahku selasai. Aku bisa bernafas
lega mulai saat ini.
Sore harinya aku diantar pulang ke kost.
Sesampai di kost aku menceritakan semuanya ke Awan. Awan pun terlihat lega.
Memang benar kata pepatah “orang jujur pasti mujur”. Kejujuran itu indah,
kejujuran itu sangat indah bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“AYAH.. AKU BERJANJI AKAN BERUSAHA
SEKERAS MUNGKIN UNTUK MENGEMBALIKAN KAMERA PEMBERIAN AYAH. AKU BERJANJI AKAN
MENJADI ANAK AYAH YANG AYAH BANGGAKAN, AKU JANJI YAH” mantapku dalam hati
sambil melihat foto ayah di bingkai kamarku.
-tamat-







0 comments:
Post a Comment
Silahkan post komentar teman-teman, dengan sangat senang hati jika teman-teman juga mau berbagi pengalaman dengan saya dan pembaca lainnya ^_^