Tuesday, 15 December 2020

7 Tips Dan Trik Mengatasi Anak Susah Tidur




Hai, Bunda, anak susah tidur sudah menjadi sebuah permasalahan umum bagi para orang tua. Terlebih jika anak masih berusia lima tahun ke bawah. Penyebab anak susah tidur pun relative banyak ya, Bun. Mulai dari jadwal tidur yang kurang teratur, anak lagi sakit, kurang nyamannya tempat tidur hingga faktor kondisi psikis anak yang bisa berakibat fatal. Duh, lumayan menyeramkan ya. Sebagai orang tua yang keren , kita harus aware demi masa depan generasi penerus kita.

Bagaimana sih cara kita bisa mengetahui penyebab anak kurang tidur akan saya tuliskan di artikel lain ya, Bunda. Pada artikel kali ini saya ingin memberikan tips dan trik bagaimana mengatasi anak susah tidur. Berikut ulasannya.

1. Mencuci kaki sebelum tidur.

Mungkin tips ini terdengar klise, tetapi ini bisa membuat badan terasa rileks dan nyaman menjelang tidur. Bunda pernah tidak saat tidur satu kaki masuk dalam selimut sedangkan kaki lainnya berada diluar selimut? Itu membuat nyaman tidur, kan? Nah, mencuci kaki sebelum tidur adalah versi untuk anak-anak. Selain kaki menjadi bersih, sel saraf pada telapak kaki akan menyerap dingin air sehingga akan terasa nyaman saat memakai selimut.

2. Bersihkan kasur dan mengganti seprei secara berkala.

Cara ini adalah salah satu sunnah yang diajarkan di agama saya. Kasur yang bersih tentunya akan menambah rasa nyaman saat tidur. Selain itu, mengganti seprei secara berkala juga sangat berpengaruh dalam kenyamanan tidur. Meskipun secara kasat mata seprei terlihat bersih, tetapi bekas keringat dan endapan debu yang tidak bisa dibersihkan dengan cara yang biasa (misalnya pakai sapu lidi) akan membuat badan terasa gatal dan menjadi salah satu penyebab datangnya kutu busuk atau kutu kasur. Terlebih jika salah satu atau bahkan lebih keluarga Bunda suka ngiler, hehe.

Mengganti seprei secara berkala bisa Bunda lakukan minimal 3 hari sekali. Jangan lupa gunakan seprei dengan bahan katun ya, agar saat dipakai jadi adem semriwing, hehe.

3. Mematikan lampu saat tidur.

Menurut hasil penelitian dari New York Univercity School of Medicine, Amerika serikat mengatakan bahwa cahaya tetap terdeteksi oleh kelopak mata meskipun kita tertidur. Tidur dalam kondisi lampu menyala mengakibatkan otak tidak memproduksi melatonin dimana melatonin ini bisa membantu seseorang untuk tidur lebih lelap.

Bagaimana jika anak takut akan gelap atau bahkan mempunyai trauma dengan ruangan gelap? Salah satu pengganti tidur dalam kondisi lampu dimatikan adalah dengan memakai penutup mata saat tidur. Ini akan membantu kelopak mata agar tidak mendeteksi cahaya lampu.

4. Mengajak anak bermain atau aktif di siang hari.


Anak yang aktif di siang hari cenderung akan lelah dan mudah ngantuk di malam hari. Untuk itu Bunda diminta agar ikut aktif mengajak anak beraktifitas banyak di siang hari. Misalnya dengan bermain, membuat kue, atau bahkan hanya bersenda gurau biasa.

Tidur siang tentu saja diperbolehkan, tapi batasi jam tidur siangnya ya, Bunda. Bisa satu hingga satu setengah jam saja untuk jadwal tidur siang.

5. Mendengarkan nursery rhymes, white noise, murotal al-quran atau membacakan dongeng.


Cara ini lumayan membantu mengatasi anak yang susah tidur. White noise dipercaya mampu membangkitkan keinginan untuk tidur. Bahkan ini juga berlaku untuk orang dewasa lho, Bun. Salah satu contoh white noise adalah suara hujan. Selebat apapun suara hujan di luar, maka lama kelamaan akan membuat mata mengantuk. Dan hebatnya, white noise bisa kita dapatkan melalui aplikasi di google play maupun video di youtube.

Hal ini berlaku juga untuk nursery rhymes, murotal al-quran dan sejenisnya. Membacakan dongeng juga termasuk ya, Bunda. Cocok diaplikasikan untuk anak yang takut tidur dikegelapan.

6. Pastikan anak kenyang tetapi jangan terlalu kenyang.

Ini penting sekali. Perut yang kenyang akan menimbulkan rasa bahagia dan nyaman. Jadi, jangan biarkan anak lapar menjelang tidur ya. Tetapi jangan juga membiarkan anak terlalu kenyang sebelum tidur. Itu akan membuat lambungnya bekerja terlalu keras dan perut terasa begah bikin tidak nyaman.

7. Jangan lupa berdoa dan beri sugesti positif menjelang tidur.

Tips dan trik terakhir ini adalah poin paling penting sebelum tidur. Dekatkan anak bunda dengan Allah melalui berdoa terlebih dahulu sebelum tidur. Berikan sugesti positif kepada anak. Misalnya dengan memberitahu anak bahwa tidur yang cukup akan membuat badan menjadi lebih segar sehingga besok bisa beraktifitas dengan riang. Tidur yang cukup akan membuat sistem kekebalan tubuh semakin kuat sehingga tidak mudah sakit.

Nah, bagaimana, Bunda? Cukup gampangkan tips dan triknya? Semoga bisa membantu Bunda mengatasi permasalahan tidur anak, ya. Lakukan tips dan triknya secara teratur dan terjadwal ya, biar si kecil terbiasa melakukannya. Oh iya, jika Bunda ingin membaca tips trik mengatasi anak susah tidur lainnya, Bunda bisa klik link disini. Terima kasih sudah membaca artikel saya. Semangat bertugas ,Bunda.

This entry was posted in

Saturday, 17 December 2016

Dewasa-kah Aku?


Assalamualaikum..

Halo hai lama tak jumpa :p

Mohon maaf dikarenakan masih sibuk dengan rutinitas baru. Kan sekarang TS sudah menikah, jadi waktu luangnya sedikit. Apalagi kemarin terpotong pindahan dari jawa ke sumatera, alhamdulillah capeknya masyaAllah XD.

Kali ini, sesuai dengan judul, Hana mau sedikit berbagi cerita mengenai makna dewasa menurut sudut pandang Hana ya? Teman-teman bisa kok menambahkan atau membenarkan kalau sekiranya banyak tulisan ini yang kurang :p.

Dewasa, bukan perkara tentang umur seseorang. Dewasa adalah pilihan, yapp, pilihan yang kita ambil selama pemikiran kita tumbuh disetiap waktunya. Seseorang yang sudah ber-umur, belum tentu dikatakan dewasa. Begitu pula dengan sebaliknya. 

Bagaimana bisa dewasa disebut dengan pilihan? Kita pasti sering bukan mengalami gejolak hati yang tak karuan saat kita mendapatkan atau menyelesaikan sebuah permasalahan? Istilah gaulnya sih diibaratkan perkataan hati dari setan dan malaikat. 

Contohnya, kita mendapatkan permasalahan dengan salah seorang teman. Teman kita tersebut menjelek-jelekkan kita. Hati kita beradu antara memarahi melabrak teman tersebut atau membiarkannya. Dari sini, poin dewasa yang dimaksud bukan kita memilih pilihan dengan membiarkan teman kita tersebut. Melainkan mengambil garis tengahnya dengan catatan kita harus intropeksi terlebih dahulu. 

"Benarkah yang akan aku lakukan ini? Bagaimana dampaknya jika aku melakukan? Apakah nanti akan membuat situasi membaik atau malah memperburuk?" 

Dari contoh kasus diatas, marah itu pasti ada, jengkel, sebal, tidak percaya bahwa teman kita akan melakukannya, sedih, hingga patah hati (sebagai teman). Namun, jika kita mengikuti "rasa hati" tersebut, apa yang akan kita dapat? Bukannya membaik malah bisa jadi lebih buruk, bertengkar, bermusuhan dan lain-lain yang ujungnya putusnya tali silaturahmi hingga penyesalan. 

Jika kita memilih membiarkan saja, itu juga kurang tepat (menurut Hana). Kita sebagai "teman" jangan sampai tega memboarkan teman kita berada diposisi yang tidak benar. Teman tidak hanya selalu bersama baik suka maupun duka, bukan? Teman itu juga harus saling mengerti, menasehati dan menggandeng ke arah yang lebih baik lagi. Jadi, mentang-mentang dia teman kita, jangan sampai saat dia melakukan kesalahan, kita hanya diam saja. 

Lantas apa yang harus kita lakukan?? Memilih jalan tengah. Yapp, menanyakan permasalahan dengan baik-baik, mengklarifikasi, menasehati dan akhiri dengan minta maaf (meski kita tahu kita tidak bersalah). 

Apa bedanya dewasa dengan mengalah? Orang mengalah belum tentu dewasa, tetapi orang dewasa sudah pasti mengalah ^_^ 

Apa penyataan diatas ribet? Ahh semoga saja tidak, terkadang menuliskan apa yang diungkapkan oleh hati itu susah-susah gampang. Jadi maafkan ya? :p 

Semoga sedikit tulisan diatas bisa bermanfaat untuk kita semua terutama saya, karena sebagian besar post yang ada di blog saya ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Sampai jumpa, wassalamualaikum wr. Wb 

P.s : ini bukan pengalaman pribadi :p 
P.s.s : next next next post insyaAllah bakal post mengenai cerita mengapa TS tetiba menikah, tips-tips rumah tangga, tips-tips bermanfaat lainnya, hingga kajian ilmu islami yang saya dapatkan dari kajian ust. Dzakir Firdaus :D untuk cerpen dan novel akan saya buatkan blog sendiri. Jadi mohon ditunggu ya :D 

Friday, 14 October 2016

Menunggu



Menunggu..
Menunggu itu seperti "memeluk"
Kau akan mengeratkan pelukan tersebut saat seseorang yang kau tunggu akan segera datang

Menunggu..
Layaknya sebuah hujan
Ia terasa lebih menenangkan dari hujan
Terasa lebih romantis dari rintik hujan
Terasa lebih menentramkan dari petrichor
Dan terasa lebih indah dari bianglala yang sinarnya merupakan gabungan dari 7 simbol spektrum cahaya..

Menunggu...
Mengembalikan kesucian..

Ada dua jenis menunggu..
Menunggu yang menyakitkan
Dan menunggu yang menentramkan

Barang siapa yang yakin atas apa ia tunggu..
Maka ia akan tentram

Selamat menunggu..
Kau akan merasakan betapa mengagumkannya menunggu
Seperti memeluk waktu..
Membiarkannya pergi dengan ikhlas
Dan menyambut "ia" datang..

#DHRA




P.S : ah rencananya mau bikin puisi. Tapi berujung seperti ini. Maafkan kehancuran tulisan saya ini. Akan berusaha lebih baik lagi. Mohon bantuannya ya?! I love You :*

Friday, 10 June 2016

Bubur Untuk Kakek




"Kek, Aisyah lapar.." Rintih gadis kecil berbaju hello kitty yang sudah mulai pudar warnanya.

"Sabar ya Aisyah, dagangan kakek belum ada yang laku" ucap kakek sambil sekali-kali mengusap kepala cucunya.

Hari ini matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Karung goni kakek belum terjual sama sekali. Di pasar, tepatnya didekat ruko alat-alat listrik kakek menggelar dagangannya. Beralaskan karung goni yang dijahit menjadi lebih lebar. Karung goni kakek hari ini belum laku sama sekali. Biasanya ada satu atau dua orang yang membeli karung goni kakek untuk mengangkut barang belanjaan mereka. Dari karung yang terjual itulah kakek dan Aisyah mendapat sebungkus makanan.

"Kek... laper..." untuk kedua kalinya gadis berambut buntut kuda lengkap dengan jepitan rambut bunga sakura itu merintih. Kali ini lebih terisak sambil memegangi perutnya.

"Aisyah sabar ya sayang, Aisyah tidur dulu sini. Nanti kalau sudah dapat uang kita beli makan ya." jawab kakek dengan suaranya yang lembut. Tepatnya bukan lembut, melainkan lemas. Seminggu ini kakek hanya makan makanan sisa dari Aisyah. Itupun sehari hanya sekali.

Aisyah menyenderkan kepalanya ke paha kakek. Berusaha dengan kuat tertidur agar tidak merasakan perutnya melilit karena lapar. Setiap Aisyah mencoba memejamkan mata, setiap itu pula perutnya bersuara "Krrrrrtthhh"

"Kek, kenapa ya perut bunyi? Apa didalam ada spikernya ya kek?" Tanya gadis kecil yang masih berumur 5 tahun itu.

"Haha... Itu artinya perut Aisyah lagi ngobrol sama Aisyah"

"Serius kek?? waaaaaahhhh hebaaaatt Aisyah bisa ngobrol sama perutttt!!" Mata gadis itu berbinar.

"Hahaha..." Kakek hanya menanggapinya dengan tertawa.

"Kek kira-kira perutnya ngomong apa ya? Pasti perutnya juga lagi lapar seperti Aisyah. Perut yang sabar ya, dagangan kakek belum laku. Nanti kita beli makanan yang enak-enak, iya kan kek?" ucapnya sambil mengelus perut dan menatap kakek dengan tatapannya yang polos.

"Iya dong, nah, makanya sekarang Aisyah dan perut Aisyah yang mungil ini tidur dulu. Nanti kakek belikan makanan yang enak-enak" jawab kakek sambil mengelus rambut Aisyah.

"Oke perut, kita tidur dulu ya, nanti dibeliin makan sama kakek, hihihi"

Perlahan Aisyah pun tertidur. Keadaan kakek dan Aisyah sudah setahun lebih seperti ini. Semenjak keluar dari rumah anak terakhir kakek, Aisyah dan kakek hidup dijalanan. Tidur beralas dan berselimut karung. Bagi kakek dan Aisyah berteduh didepan ruko orang lebih nyaman daripada tidur dikasur empuk paman Aisyah.

Aisyah adalah cucu dari anak pertama kakek. Ibu Aisyah meninggal saat melahirkan Aisyah, sedangkan ayah Aisyah pergi tiada kabar. Aisyah yang masih mungil harus tinggal bersama kakek dan neneknya.

Tiga tahun yang lalu nenek Aisyah sakit keras sehingga membuat kakek menjual seluruh aset berharganya. Namun Tuhan berkehendak lain. Nenek Aisyah dipanggil Tuhan dan membuat kakek harus tinggal di rumah anak terakhirnya. Malang nasib kakek dan Aisyah. Bibi Aisyah merasa repot mengurus Aisyah dan kakek, terlebih kakek dan Aisyah tidak bekerja. Alhasil setiap kali kakek dan Aisyah makan hanya diberi nasi sedikit dengan kuah yang banyak. Tanpa lauk ataupun sayur.

Malam itu langit menangis menitikkan rintik hujan melihat kisah kakek dan Aisyah. Dingin malam memeluk mereka secara brutal. Kakek dan Aisyah diusir dari rumah paman Aisyah. Menelusuri trotoar sambil sesekali duduk karena lelah. Ah, semoga tidak ada orang sebegitu tega seperti paman dan bibi Aisyah.

"Aisyah, bangun nak, ayo makan dulu" perlahan kakek membangunkan Aisyah.

"Kakek...." gumam Aisyah perlahan sambil mengucek matanya, sepertinya debu dari jalan raya tidak sengaja masuk ke mata Aisyah.

"Makan dulu yuk" kakek menyiapkan sebungkus nasi pecel dengan lauk tempe untuk Aisyah.

"Kakek nggak makan?" tanya Aisyah sambil menyuapi mulutnya.

"Aisyah makan dulu, nanti baru kakek makan" ucapnya sambil tersenyum.

"Bohong, ayo makan bareng kek, Aisyah suapin ya?" tangan kecil itu mengepal nasi menuju mulut kakek.

Mereka pun makan berdua, manis sekali. Meski hanya sebungkus nasi pecel dengan lauk tempe, mereka sangat bersyukur.

***

Malam ini mereka tidur di bawah halte bus (lagi). Kakek memberikan selimutnya untuk Aisyah karena malam ini sangat dingin. Hujan baru saja berhenti. Disela istirahatnya, kakek memandangi wajah polos Aisyah. Kakek takut akan masa depan Aisyah, siapa yang akan mengurusnya kalau kakek tak ada. Dipejamkanlah mata kakek, berdoa kepada Tuhan agar selalu menjaga Aisyah.

"Kek, bangun....." ucap Aisyah lemas. Namun tak ada pertanda kakek membuka mata.

"Kakek masih capek ya? Ayo bangun kek, kita harus jualan supaya bisa beli nasi padang udang, hehehe" tangan kecil nan ringkih itu menggoyangkan perlahan tubuh kakek. Namun tetap, tubuh yang hanya memiliki tulang dan kulit dengan sedikit lapisan daging itu tak bergerak.

"Kek, bangun kek, kakek!" diperkeras suara Aisyah.

"KAKEK BANGUN!" lebih diperkeras lagi sehingga mengundang beberapa orang yang sedang menunggu bus untuk mengerumuni kakek dan Aisyah.

"Kakeknya kenapa dek?" salah satu wanita dari mereka mulai mengecek tubuh kakek. Deg! Kakek denyut nadi tak ada, tubuhnya agak kaku dan dingin. Apa yang harus dikatakannya pada gadis kecil ini?

"Kakek nggak apa-apa kan kak?" tanyanya dengan polos.

"Eh, kakek... kakek lagi sakit dek, butuh istirahat.. eh.. kakak bawa kerumah sakit ya?"

"Kakek sakit??? J-jangan dibawa. Aisyah mau beli bubur buat kakek. J-jangan dibawaaaa...." ia sedikit terisak, sambil berlari mencari warung bubur untuk kakek, matanya mulai basah oleh airmata. Kakinya sakit kena kerikil kecil. Ah itu bukan seberapa, Aisyah harus segera mendapatkan bubur dan menyuapi kakek seperti saat Aisyah sakit.

Aisyah memasuki salah satu kedai bubur. Ia tak punya uang, bagaimana caranya membeli? Kakek tak pernah mengajari Aisyah mengemis ataupun mencuri.

"Buk.. A-aisyah boleh bantu cuci mangkok? Nan-nanti bayarannya bubur buat kakek" pintanya agak takut.

"Kakeknya dimana dek?" beruntungnya penjaga warung itu tidak mengusir Aisyah.

"Di halte.. ka-kakek sakit"

"Yaudah, ibu bungkusin saja ya, adek nggak usah cuci mangkok" ucapnya sambil tersenyum.

"Ng-nggak mau, kata kakek kita harus berusaha. Nggak boleh minta-minta"

"Yasudah, itu 2 mangkok di meja depan adek cuci di sini ya?" ibu itu terharu.

Setelah mencuci 2 mangkok itu Aisyah diberi seporsi besar bubur Ayam lengkap dengan kerupuknya. Ibu itu sebenarnya tak tega melihat anak sekecil Aisyah ini jalan sendirian di jalan raya. Tapi Aisyah bersikeras menolak untuk diantar.

Setelah mengucapkan terimakasih, Aisyah segera menuju ke halte tempat kakek. Karena tergesa Aisyah jatuh dan membuat kakinya lecet kena kerikil. Aisyah tak perduli, dengan mimik muka meringis kesakitan, ia lanjut berlari ke arah halte. Banyak orang berkerumun disana dan ada satu mobil polisi parkir didekat halte.

"Kek, kakek.. Aisyah sudah dapat bubur, kakek makan dulu ya.. Aisyah suapin..." ucap Aisyah dengan nada yang dipaksakan ceria.

Orang-orang yang berkerumun pun berbisik-bisik. Ya, benar, kakek telah meninggal dunia. Menyusul nenek ke surga. Aisyah tetap menggoyang-nggoyang tubuh kakek agar kakek bangun. Tak ada respon, tak pernah ada respon dari kakek. Aisyah mulai menangis memanggil kakek. Aisyah takut banyak orang berkumpul disini. Terlebih, Aisyah takut kakek tidak bangun seperti kucingnya dirumah kakek dulu.

"Adek manis, kakek sudah tidur pulas jadi nggak bisa makan bubur. Adek makan bubur sama kakak aja yuk." ucap salah satu wanita sambil menggenggam tangan Aisyah dan mengajakknya menjauh dari sana.

"Nggak mau, Aisyah mau sama kakek!"

Terpaksa Aisyah digendong oleh wanita itu. Dengan diiringi teriakan "kakek!" dari Aisyah, jenazah kakek dibopong menuju mobil polisi. Aisyah menangis, Aisyah takut, Aisyah kesal. Kenapa wanita ini membawanya jauh dari kakek? Kenapa polisi membawa kakek? Kakek salah apa? Aisyah mau ikut kakek. 

Namun itu semua sia-sia, mobil polisi telah pergi. Aisyah pingsan karena badannya capek dan lemas. Sungguh malang nasib gadis kecil berambut buntut kuda itu. Itu dulu, dulu sekali, tepatnya dua puluh tahun yang lalu.

***


"Semoga tak ada Aisyah dan kakek yang lain ya" gumam seorang wanita berparas ayu dengan jepitan rambut bunga sakura bertengger di bros kerudungnya.


*tamat*
This entry was posted in

Wednesday, 8 June 2016

Tradisi Desa: Ater-ater, Fase Pertama Anak Kecil Kaya!

Assalamualaikum, Hello hai kamu yang sering kesasar di postku~ >,< 

Apa kabar? masih kuat dong puasanya? Nggak nyangka ya lebaran kurang 27 hari lagi *gethok pala*. Tadi sahur sama apa? Kalau Hana sih sahur sama sambal goreng kentang, masakan Hana sendiri lho, wenaaaakkk ajib asik! *padahal ga ada yang nanya* -,-



Kali ini Hana mau menulis/mereview/berbagi tentang tradisi yang ada didesa Hana selama bulan Ramadhan. Kalian pasti tau dong tradisi itu apa, wkwk. Dan Hana yakin sebagian besar tradisi di desa-desa lainnya itu kurang lebih sama *ya meskipun ada yang beda sih*. Nah, sebelum Hana mau share nih, Hana mau tanya tentang tradisi yang ada di desa atau tempat teman-teman ya. Tulis di kolom komentar, sekalian berbagi pengetahuan tentang kebudayaan nggak ada salahnya kan??? :D 

***
Dialog dikit yak :p 

M : mak-mak
A : adik-adik
H : Hana
B : Ibu 

M : Assalamualaikum, yu... mbakyuuu... (terj. : Assalamualaikum, mbak.. mbak..)
B : Waalaikumsalam, oalah yu Sri tah, tak kiro sopo mbak. (terj. : oalah mbak Sri tah, aku kira siapa)
M : Masak opo yu? Iki ater-ater teko mbah sinam. (masak apa mbak? ini ada makanan dari nenek sinam)
B : Repot-repot ae yo, suwun lho yu, gusti Allah sing mbales. (repot-repot aja, makasih mbak, Allah yang membalas)
M : Podo-podo, wes aku tak nerusne ater-ater iki. Assalamualaikum (sama-sama, yasudah aku teruskan bagi makanannya)
B : Iyo yu, suwun lho, waalaikumsalam (iya mbak, makasih lho) 

Mamenit kemudian~

A : Budhee... kulo nuwun... budheeeeeeee (bibi, permisi, bibi)
B : Nduk, tolong nango ngarep, ibu ngoncek'i brambang (nak, tolong bukakan pintu, Ibu ngupas bawang)
H : Nggeh, buk (ya Buk) 
A : Mbak, ater-ater kanggo budhe teko ibuk (mbak, makanan buat budhe dari ibu) 
H : Hoo.. suwun ya dek (makasih dek)
A : Hu.um *masih berdiri didepan rumah* 
H : *masuk ke dapur, naruh makanan, ngintip adek tadi, ternyata masih di depan rumah* 
B : Ono opo mbak? (ada apa kak?)
H : Niku buk, adek e kok dereng wangsul nggeh, nopo bungkus e niki diganti terus diparingaken maleh? (itu buk, adeknya belum pulan, apa bungkus makanan ini harus dikasihkan lagi?)
B : Kek no adek'e *ngasih uang 2ribuan* (kasihkan adeknya)
H : *keluar, kasihkan uang, adeknya bilang makasih, terus adeknya pulang*

 >,< 

***

Ater-ater adalah tradisi semasa ramadhan di desaku. Ater-ater itu bahasa kerennya berbagi makanan. Berbaginya ke para saudara dan tetangga tetangga dekat. Nah, biasanya yang dapat bagian makanan tadi akan membagikan kembali makanan hasil masakan mereka ke yang membagikan, agak ribet ya bahasanya haha, intinya ada timbal balik gitu. Namun, ada juga yang tidak, tergantung dari masing-masing individu mau berbalas bagi makanan atau tidak. 

Tradisi ini adalah fase pertama anak kecil menjadi kaya, haha. Mengapa? Karena di desa Hana, kalau anak kecil yang mengantarkan makanan tersebut biasanya akan diberi uang saku. Dulu pas Hana masih kecil juga sering dapat uang saku dari tetangga-tetangga wkwk. 

Makanan yang dibagikan dikemas seperti makanan kotak pada umumnya. Tapi biasanya ada juga yang dibungkus pakai daun pisang. Beberapa orang juga membedakan makanan yang mau dibagi ke sanak saudara, biasanya dibungkusnya pakai rantang/panci dimana nanti rantang/panci dikembalikan lagi kepada kita. Ini nih contohnya, Hana ambil gambar di google wkwk




Itulah salah satu tradisi di tempat Hana selama bulan Ramdahan, kalau di tempat kalian apa? coret-coret di kolom komentar ya :D Terimakasih, xoxo~

Wassalamualaikum, 
This entry was posted in

Wednesday, 18 May 2016

Mereka Bilang Ini Cinta (?) (Bagian 3 - Pov Haku)

*Pov Haku*


Nama gue Haku. Mungkin terdengar seperti nama orang Jepang. Nyatanya gue bukanlah orang Jepang, keturunan dari nenek moyang ada sih, meski cuma 1%. Sang penulis cerpen ini orangnya suka mlesetin nama tokohnya, pun juga nama gue lolos dari hasil plesetannya. Haku, berasal dari kata Hak-ku yang artinya milikku. Entah dapat dari mana penulis cerpen ini plesetan seperti itu. Mungkin dari seseorang yang pernah mengisi hari-harinya. Oke skip.

Gue adalah pecinta kata, pecinta alam, pecinta senja. Gue suka sekali duduk termenung menikmati dersik di pinggir danau. Biasa saja sih, hingga pada suatu hari gue mendengar rintihan rasa sakit yang amat sangat. Rintihan patah hati hebat dari seorang wanita paling aneh yang pernah gue temui. 

***

Sore ini langit agak sedikit mendung. Ekstra kulikuler hari ini juga sangat melelahkan. Cucuran keringat mengering dan lengket bagaikan perangko memeluk kertas surat. Dersik angin terdengar lebih syahdu. Suaranya menenangkan, seakan berbisik;

“temui aku diujung Danau, ceritakan keluh kesahmu, aku akan selalu ada untukmu” 

Apa? Kalian bilang gue lebay? Hah? Kalian bilang gue butuh belaian kasih sayang? Hahaha, sayang sekali kalian benar! Gue anak tunggal, bokap nyokap tinggal di Amerika. Kasih sayang mereka hanya sebatas kaca handphone. Mereka jarang pulang ke Indonesia, bukannya tak mencintai Indonesia, banyak pekerjaan yang menyita waktu mereka. Boro-boro untuk Indonesia, untuk gue yang statusnya sebagai darah daging mereka saja hanya sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Sedih? Buat apa sedih. Ini adalah salah satu proses tentang mendewasakan diri, jadi nikmati saja. 

Pacar? Hahahaha, gue paling anti yang namanya pacaran semenjak dia berkhianat. Dia siapa? Sudah, tak usah membahas masalalu. Gue sudah cukup bersahabat dengannya. Masalalu tetaplah masalalu, biarkan berlalu. Bagaimana dengan kenangan? Gue peluk erat. Masalalu boleh pergi, tetapi kenangan tetaplah dihati, ia bagaikan kepingan hidup yang mana ada untuk melengkapi. 

“Ahh.. danau ini masih sama seperti biasanya, segar!!!!” 

Kusandarkan punggung yang otot-ototnya mulai meronta. Kebiasaan gue adalah menengada ke langit. Menikmati hamparan awan, tak perduli mendung ataupun terang. Maka nikmat mana lagi yang......

“Kamu kenapa sih nggak peka! Kamu sadar nggak sih! Kamu breng.... Aku sayang sama kamu, Ren! Huaaa” 

Ada seorang gadis dengan rambut buntut kudanya sedang menangis sambil sesekali melemparkan batu ke danau ini. Kasian danau, salah apa dia. 

“Tiga tahun aku nunggu kamu! Tiga tahun! kau tahu, kalau aku pakai tiga tahun itu buat cicil motor, aku udah dapat motor! Tapi apa balasanmu?! Kamu pergi ninggalin aku sendiri disini. Emang salah kalau aku mencintaimu dari kejauhan?! DASAR COWOK GAK PEKA!!!!” 

Bwahahaha, ini cewek begok atau gimana sih. Yaiyalah tuh cowok nggak bakalan ngerti, orang lo aja nggak bilang. Ini cerita pengagum rahasia macam apa? Hahaha. Dan disamping patah hati hebatnya, dia masih membandingkan menunggu dengan kredit motor (?) Cewek macam apa ini Tuhan, cewek aneh, hahaha. 

“Kau tau Ren, hadirmu bagaikan pelangi selepas hujan. Membawa kebahagiaan baru. Dan kepergianmu bagaikan petir, merusak ketenangan hati. Tahukah kau Ren, disini, di danau ini, semua tentangmu berada.” 

Oke, lelaki yang bernama Ren, lo harus bertanggung jawab. Lo apakan wanita semanis ini sampai menangis ingusan? 

“Wahai penunggu Danau! Kutuklah para lelaki yang tidak peka!" 

Splaassshh teeerrr *ceritanya suara halilintar* 

"Whattt????? Tsadis!!" batinku

Gadis berambut buntut kuda itu rupanya sudah selesai dengan umpatan-umpatannya. Dia duduk terdiam menghadap bawah, sesekali menggerakkan sepatunya kekiri dan kanan seolah sedang menulis sesuatu. Ah, gue jadi nggak tega, gua nggak bisa ngebiarin ingus itu bertahan diujung hidungnya.

"Pssstt..." 

Gue mendekatinya dan menyerahkan sapu tangan kesayangan gue. Dia hanya menatap gue sebentar, mengambil kasar sapu tangan gue, dan menuangkan semua  penghuni hidungnya, lalu menyerahkan lagi sapu tangan tersebut ke gue. Menjijikkan! 

"Lo ngapain nangis disini?" 

Dan dia hanya diam serta tetap menggerakkan sepatunya. Dia ternyata sedang menulis sesuatu yang bersisi "LAPAR!" 

Hah?? What? Wanita macam apa ini Tuhan. Gue ambilkan roti sisa bekal di tas, dan dia sambar bagaikan manusia belum makan satu bulan. Sungguh wanita aneh bin rakus.

"Minta minuuumm..." rengeknya.

Bagaikan ibu yang lagi melayani anaknya, gue bagi minuman setumbler yang untungnya belum gue sentuh sama sekali karena lebih tertarik dengan cola dibanding air putih. Diminumnya sebagian dan sebagiannya lagi dibuat cuci muka, ya Tuhan~

"Thanks, mulai sekarang jangan temui aku lagi. Karena aku benci lelaki!" ungkapnya sambil menyerahkan tumbler kosongku. 

Kalian tanya reaksi gue? Melongo sambil pengen nyolok matanya, gue culik masukin karung, gue buang ke tengah danau. Ehh.. tung-tunggu, dia balik lagi.

"Minggir! Berdiri!" ucapnya secara sadis.

Saat gue berdiri, diambillah jepit rambut huruf 'L' yang ternyata sedari tadi gue dudukin. Pantas ada yang mengganjal gitu, ternyata jepit. Syukurin jepitnya tadi sempat gue kentutin, hahaha *ketawa jahat*. Dan dia lanjut ngeloyor pergi tanpa permisi. Gue hanya bisa menatap rambut buntut kudanya yang bergoyang kekiri-kanan dan tasnya yang kegedean. Untuk pertama kalinya gue merasa danau ini aneh! 

***

Yaps, cerita tadi adalah kejadian 7 tahun lalu sewaktu gue masih SMP. Setelah kejadian tersebut, gue jadi sering melihat dia duduk sendirian dibangku yang sama, membawa buku bersampul Pink dan rambut berjepit yang sempat gue kentutin. 

Dia sebenarnya nggak sendiri sih, membawa berbagai buku setiap harinya. Tertawa-tertawa nggak jelas, membanting bukunya tapi setelah itu diambil lagi dielus-elus dan dipeluk erat, nyanyi-nyanyi nggak jelas dengan suara cemprengnya, makan banyak snack sambil meracau nggak jelas dan yang paling menyeramkan adalah saat dia melamun lama terus tetiba teriak-teriak, asli gue kira kesurupan. 
Masa peninjauan gue dengan wanita danau berambut buntut kuda itu hanya berjalan selama 3 bulan saja karena gue harus mengurus berkas pindah sekolah gue ke Amerika. Selama itu gue nggak pernah sekalipun mendatanginya, menyapanya atau sekedar bersiul mencari perhatiannya. Kenapa? Gue takut ancamannya "mulai sekarang jangan temui aku lagi!". Sadis cuy~ 

Dan hari ini, tepat liburan semester kuliah gue, gue akhirnya bisa berkunjung ke danau penuh emosi dan spektrum ini. Udaranya masih sama segarnya, hanya suasanya berganti. Sekarang lebih banyak muda-mudi berpacaran di bangku pojok taman. Cobaan terberat bagi para jomblo. 

Iseng gue pengen banget ngelihat bangku ukuran satu meter tempat wanita danau itu biasanya duduk. Dan dia ternyata masih duduk disitu, hahaha. Eh, t-tunggu, dia masih duduk disitu? Apa itu beneran dia? Ah iya benar, itu buku bersampul pink yang dipeluknya dan jepit rambut huruf 'L' miliknya. Sungguh kebetulan yang amat sangat. Dia lumayan man....

"Tin..tin!!!!" Setdah, ini suara klakson ngagetin aja. Gue tadi bilang sampai mana? Oh iya, dia lumayan man... H-hei, dia beranjak pergi, buru-buru banget. B-bukunya jatuh, gue ambil dan samperin atau bagaimana ini? Tapikan gue nggak boleh nemuin dia lagi. Ah dasar tolol! Itukan sudah 7 tahun yang lalu, mana ingat dia wajah gue.

"Eh wanita danau, buku kamu jatuh!" Teriak gue lantang

"Hah? Apaan?" 

"BU-KU-KA-MU-JA-TUH!" Gue teriak lebih keras sambil berlari dan ngos-ngosan.

"Nih, lain kali jangan suka molor di danau, kesambet baru tau rasa, bye wanita danau." 

Lanjut gue langsung menjauh dari tempatnya berdiri. Haha, syukurin, pembalasan atas cuek lho 7 tahun lalu. Dia sepertinya agak aneh dengan sikap gue. Pembalasan macam apa ini? Entahlah. 

"Ternyata memang benar, dia lumayan manis sekarang" Gumam gue sambil senyum disusul pukul kepala kayak orang begok.

***

"Halo, Lo dimana, Hak?"

"Biasa habis cari angin, kenapa?"

"Kunci rumah gue taruh di pot biasanya, Gue sudah di kampus"

"Oh, oke Rafe"

"Terus tadi gue masak sop, kayaknya belum di..... *tuttuttut"

"Belum di apa, Rafe? Halo??" 

Dasar keponakan aneh. Yaps, Rafe adalah keponakan gue yang ada di Jakarta. Rafe cukup tampan karena dia keturunan Jepang-Indonesia, tapi sayangnya penulis cerpen ini memberi nama yang nggak ada unsur jepangnya. Rafe, berasal dari plesetan Giraffe *jerapah*, hahaha. 

"Renang aja kali ya, mumpung rumah Paman kosong~" Gumam gue.
"Bau apa ini? Kayak bau gosong"
"Astaga, dasar keponakan pikun! Ini namanya Sop apa? Sop gosong? Untung nggak kebakaran~"

bersambung~
***

Hello hai semua, maaf ya updatenya lama, laptopnya belum sembuh >,,< Btw sankyu buat yang sudah kirim e-mail >,,< Cerpen ini masih bersambung ya, bagian 4-nya mohon ditunggu. Hana buat secepatnya. Terimakasih buat kesabaran dan tetep baca cerpen ini, Xoxo~ *kechuup* 
This entry was posted in