*Pov Haku*
Nama gue Haku. Mungkin terdengar seperti nama orang Jepang. Nyatanya gue bukanlah orang Jepang, keturunan dari nenek moyang ada sih, meski cuma 1%. Sang penulis cerpen ini orangnya suka mlesetin nama tokohnya, pun juga nama gue lolos dari hasil plesetannya. Haku, berasal dari kata Hak-ku yang artinya milikku. Entah dapat dari mana penulis cerpen ini plesetan seperti itu. Mungkin dari seseorang yang pernah mengisi hari-harinya. Oke skip.
Gue adalah pecinta kata, pecinta alam, pecinta senja. Gue suka sekali duduk termenung menikmati dersik di pinggir danau. Biasa saja sih, hingga pada suatu hari gue mendengar rintihan rasa sakit yang amat sangat. Rintihan patah hati hebat dari seorang wanita paling aneh yang pernah gue temui.
***
Sore ini langit agak sedikit mendung. Ekstra kulikuler hari ini juga sangat melelahkan. Cucuran keringat mengering dan lengket bagaikan perangko memeluk kertas surat. Dersik angin terdengar lebih syahdu. Suaranya menenangkan, seakan berbisik;
“temui aku diujung Danau, ceritakan keluh kesahmu, aku akan selalu ada untukmu”
Apa? Kalian bilang gue lebay? Hah? Kalian bilang gue butuh belaian kasih sayang? Hahaha, sayang sekali kalian benar! Gue anak tunggal, bokap nyokap tinggal di Amerika. Kasih sayang mereka hanya sebatas kaca handphone. Mereka jarang pulang ke Indonesia, bukannya tak mencintai Indonesia, banyak pekerjaan yang menyita waktu mereka. Boro-boro untuk Indonesia, untuk gue yang statusnya sebagai darah daging mereka saja hanya sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Sedih? Buat apa sedih. Ini adalah salah satu proses tentang mendewasakan diri, jadi nikmati saja.
Pacar? Hahahaha, gue paling anti yang namanya pacaran semenjak dia berkhianat. Dia siapa? Sudah, tak usah membahas masalalu. Gue sudah cukup bersahabat dengannya. Masalalu tetaplah masalalu, biarkan berlalu. Bagaimana dengan kenangan? Gue peluk erat. Masalalu boleh pergi, tetapi kenangan tetaplah dihati, ia bagaikan kepingan hidup yang mana ada untuk melengkapi.
“Ahh.. danau ini masih sama seperti biasanya, segar!!!!”
Kusandarkan punggung yang otot-ototnya mulai meronta. Kebiasaan gue adalah menengada ke langit. Menikmati hamparan awan, tak perduli mendung ataupun terang. Maka nikmat mana lagi yang......
“Kamu kenapa sih nggak peka! Kamu sadar nggak sih! Kamu breng.... Aku sayang sama kamu, Ren! Huaaa”
Ada seorang gadis dengan rambut buntut kudanya sedang menangis sambil sesekali melemparkan batu ke danau ini. Kasian danau, salah apa dia.
“Tiga tahun aku nunggu kamu! Tiga tahun! kau tahu, kalau aku pakai tiga tahun itu buat cicil motor, aku udah dapat motor! Tapi apa balasanmu?! Kamu pergi ninggalin aku sendiri disini. Emang salah kalau aku mencintaimu dari kejauhan?! DASAR COWOK GAK PEKA!!!!”
Bwahahaha, ini cewek begok atau gimana sih. Yaiyalah tuh cowok nggak bakalan ngerti, orang lo aja nggak bilang. Ini cerita pengagum rahasia macam apa? Hahaha. Dan disamping patah hati hebatnya, dia masih membandingkan menunggu dengan kredit motor (?) Cewek macam apa ini Tuhan, cewek aneh, hahaha.
“Kau tau Ren, hadirmu bagaikan pelangi selepas hujan. Membawa kebahagiaan baru. Dan kepergianmu bagaikan petir, merusak ketenangan hati. Tahukah kau Ren, disini, di danau ini, semua tentangmu berada.”
Oke, lelaki yang bernama Ren, lo harus bertanggung jawab. Lo apakan wanita semanis ini sampai menangis ingusan?
“Wahai penunggu Danau! Kutuklah para lelaki yang tidak peka!"
Splaassshh teeerrr *ceritanya suara halilintar*
"Whattt????? Tsadis!!" batinku
Gadis berambut buntut kuda itu rupanya sudah selesai dengan umpatan-umpatannya. Dia duduk terdiam menghadap bawah, sesekali menggerakkan sepatunya kekiri dan kanan seolah sedang menulis sesuatu. Ah, gue jadi nggak tega, gua nggak bisa ngebiarin ingus itu bertahan diujung hidungnya.
"Pssstt..."
Gue mendekatinya dan menyerahkan sapu tangan kesayangan gue. Dia hanya menatap gue sebentar, mengambil kasar sapu tangan gue, dan menuangkan semua penghuni hidungnya, lalu menyerahkan lagi sapu tangan tersebut ke gue. Menjijikkan!
"Lo ngapain nangis disini?"
Dan dia hanya diam serta tetap menggerakkan sepatunya. Dia ternyata sedang menulis sesuatu yang bersisi "LAPAR!"
Hah?? What? Wanita macam apa ini Tuhan. Gue ambilkan roti sisa bekal di tas, dan dia sambar bagaikan manusia belum makan satu bulan. Sungguh wanita aneh bin rakus.
"Minta minuuumm..." rengeknya.
Bagaikan ibu yang lagi melayani anaknya, gue bagi minuman setumbler yang untungnya belum gue sentuh sama sekali karena lebih tertarik dengan cola dibanding air putih. Diminumnya sebagian dan sebagiannya lagi dibuat cuci muka, ya Tuhan~
"Thanks, mulai sekarang jangan temui aku lagi. Karena aku benci lelaki!" ungkapnya sambil menyerahkan tumbler kosongku.
Kalian tanya reaksi gue? Melongo sambil pengen nyolok matanya, gue culik masukin karung, gue buang ke tengah danau. Ehh.. tung-tunggu, dia balik lagi.
"Minggir! Berdiri!" ucapnya secara sadis.
Saat gue berdiri, diambillah jepit rambut huruf 'L' yang ternyata sedari tadi gue dudukin. Pantas ada yang mengganjal gitu, ternyata jepit. Syukurin jepitnya tadi sempat gue kentutin, hahaha *ketawa jahat*. Dan dia lanjut ngeloyor pergi tanpa permisi. Gue hanya bisa menatap rambut buntut kudanya yang bergoyang kekiri-kanan dan tasnya yang kegedean. Untuk pertama kalinya gue merasa danau ini aneh!
***
Yaps, cerita tadi adalah kejadian 7 tahun lalu sewaktu gue masih SMP. Setelah kejadian tersebut, gue jadi sering melihat dia duduk sendirian dibangku yang sama, membawa buku bersampul Pink dan rambut berjepit yang sempat gue kentutin.
Dia sebenarnya nggak sendiri sih, membawa berbagai buku setiap harinya. Tertawa-tertawa nggak jelas, membanting bukunya tapi setelah itu diambil lagi dielus-elus dan dipeluk erat, nyanyi-nyanyi nggak jelas dengan suara cemprengnya, makan banyak snack sambil meracau nggak jelas dan yang paling menyeramkan adalah saat dia melamun lama terus tetiba teriak-teriak, asli gue kira kesurupan.
Masa peninjauan gue dengan wanita danau berambut buntut kuda itu hanya berjalan selama 3 bulan saja karena gue harus mengurus berkas pindah sekolah gue ke Amerika. Selama itu gue nggak pernah sekalipun mendatanginya, menyapanya atau sekedar bersiul mencari perhatiannya. Kenapa? Gue takut ancamannya "mulai sekarang jangan temui aku lagi!". Sadis cuy~
Dan hari ini, tepat liburan semester kuliah gue, gue akhirnya bisa berkunjung ke danau penuh emosi dan spektrum ini. Udaranya masih sama segarnya, hanya suasanya berganti. Sekarang lebih banyak muda-mudi berpacaran di bangku pojok taman. Cobaan terberat bagi para jomblo.
Iseng gue pengen banget ngelihat bangku ukuran satu meter tempat wanita danau itu biasanya duduk. Dan dia ternyata masih duduk disitu, hahaha. Eh, t-tunggu, dia masih duduk disitu? Apa itu beneran dia? Ah iya benar, itu buku bersampul pink yang dipeluknya dan jepit rambut huruf 'L' miliknya. Sungguh kebetulan yang amat sangat. Dia lumayan man....
"Tin..tin!!!!" Setdah, ini suara klakson ngagetin aja. Gue tadi bilang sampai mana? Oh iya, dia lumayan man... H-hei, dia beranjak pergi, buru-buru banget. B-bukunya jatuh, gue ambil dan samperin atau bagaimana ini? Tapikan gue nggak boleh nemuin dia lagi. Ah dasar tolol! Itukan sudah 7 tahun yang lalu, mana ingat dia wajah gue.
"Eh wanita danau, buku kamu jatuh!" Teriak gue lantang
"Hah? Apaan?"
"BU-KU-KA-MU-JA-TUH!" Gue teriak lebih keras sambil berlari dan ngos-ngosan.
"Nih, lain kali jangan suka molor di danau, kesambet baru tau rasa, bye wanita danau."
Lanjut gue langsung menjauh dari tempatnya berdiri. Haha, syukurin, pembalasan atas cuek lho 7 tahun lalu. Dia sepertinya agak aneh dengan sikap gue. Pembalasan macam apa ini? Entahlah.
"Ternyata memang benar, dia lumayan manis sekarang" Gumam gue sambil senyum disusul pukul kepala kayak orang begok.
***
"Halo, Lo dimana, Hak?"
"Biasa habis cari angin, kenapa?"
"Kunci rumah gue taruh di pot biasanya, Gue sudah di kampus"
"Oh, oke Rafe"
"Terus tadi gue masak sop, kayaknya belum di..... *tuttuttut"
"Belum di apa, Rafe? Halo??"
Dasar keponakan aneh. Yaps, Rafe adalah keponakan gue yang ada di Jakarta. Rafe cukup tampan karena dia keturunan Jepang-Indonesia, tapi sayangnya penulis cerpen ini memberi nama yang nggak ada unsur jepangnya. Rafe, berasal dari plesetan Giraffe *jerapah*, hahaha.
"Renang aja kali ya, mumpung rumah Paman kosong~" Gumam gue.
"Bau apa ini? Kayak bau gosong"
"Astaga, dasar keponakan pikun! Ini namanya Sop apa? Sop gosong? Untung nggak kebakaran~"
"Bau apa ini? Kayak bau gosong"
"Astaga, dasar keponakan pikun! Ini namanya Sop apa? Sop gosong? Untung nggak kebakaran~"
bersambung~
***
Hello hai semua, maaf ya updatenya lama, laptopnya belum sembuh >,,< Btw sankyu buat yang sudah kirim e-mail >,,< Cerpen ini masih bersambung ya, bagian 4-nya mohon ditunggu. Hana buat secepatnya. Terimakasih buat kesabaran dan tetep baca cerpen ini, Xoxo~ *kechuup*







0 comments:
Post a Comment
Silahkan post komentar teman-teman, dengan sangat senang hati jika teman-teman juga mau berbagi pengalaman dengan saya dan pembaca lainnya ^_^