Halo hai lama tak jumpa :p
Mohon maaf dikarenakan masih sibuk dengan rutinitas baru. Kan sekarang TS sudah menikah, jadi waktu luangnya sedikit. Apalagi kemarin terpotong pindahan dari jawa ke sumatera, alhamdulillah capeknya masyaAllah XD.
Kali ini, sesuai dengan judul, Hana mau sedikit berbagi cerita mengenai makna dewasa menurut sudut pandang Hana ya? Teman-teman bisa kok menambahkan atau membenarkan kalau sekiranya banyak tulisan ini yang kurang :p.
Dewasa, bukan perkara tentang umur seseorang. Dewasa adalah pilihan, yapp, pilihan yang kita ambil selama pemikiran kita tumbuh disetiap waktunya. Seseorang yang sudah ber-umur, belum tentu dikatakan dewasa. Begitu pula dengan sebaliknya.
Bagaimana bisa dewasa disebut dengan pilihan? Kita pasti sering bukan mengalami gejolak hati yang tak karuan saat kita mendapatkan atau menyelesaikan sebuah permasalahan? Istilah gaulnya sih diibaratkan perkataan hati dari setan dan malaikat.
Contohnya, kita mendapatkan permasalahan dengan salah seorang teman. Teman kita tersebut menjelek-jelekkan kita. Hati kita beradu antara memarahi melabrak teman tersebut atau membiarkannya. Dari sini, poin dewasa yang dimaksud bukan kita memilih pilihan dengan membiarkan teman kita tersebut. Melainkan mengambil garis tengahnya dengan catatan kita harus intropeksi terlebih dahulu.
"Benarkah yang akan aku lakukan ini? Bagaimana dampaknya jika aku melakukan? Apakah nanti akan membuat situasi membaik atau malah memperburuk?"
Dari contoh kasus diatas, marah itu pasti ada, jengkel, sebal, tidak percaya bahwa teman kita akan melakukannya, sedih, hingga patah hati (sebagai teman). Namun, jika kita mengikuti "rasa hati" tersebut, apa yang akan kita dapat? Bukannya membaik malah bisa jadi lebih buruk, bertengkar, bermusuhan dan lain-lain yang ujungnya putusnya tali silaturahmi hingga penyesalan.
Jika kita memilih membiarkan saja, itu juga kurang tepat (menurut Hana). Kita sebagai "teman" jangan sampai tega memboarkan teman kita berada diposisi yang tidak benar. Teman tidak hanya selalu bersama baik suka maupun duka, bukan? Teman itu juga harus saling mengerti, menasehati dan menggandeng ke arah yang lebih baik lagi. Jadi, mentang-mentang dia teman kita, jangan sampai saat dia melakukan kesalahan, kita hanya diam saja.
Lantas apa yang harus kita lakukan?? Memilih jalan tengah. Yapp, menanyakan permasalahan dengan baik-baik, mengklarifikasi, menasehati dan akhiri dengan minta maaf (meski kita tahu kita tidak bersalah).
Apa bedanya dewasa dengan mengalah? Orang mengalah belum tentu dewasa, tetapi orang dewasa sudah pasti mengalah ^_^
Apa penyataan diatas ribet? Ahh semoga saja tidak, terkadang menuliskan apa yang diungkapkan oleh hati itu susah-susah gampang. Jadi maafkan ya? :p
Semoga sedikit tulisan diatas bisa bermanfaat untuk kita semua terutama saya, karena sebagian besar post yang ada di blog saya ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri. Sampai jumpa, wassalamualaikum wr. Wb
P.s : ini bukan pengalaman pribadi :p
P.s.s : next next next post insyaAllah bakal post mengenai cerita mengapa TS tetiba menikah, tips-tips rumah tangga, tips-tips bermanfaat lainnya, hingga kajian ilmu islami yang saya dapatkan dari kajian ust. Dzakir Firdaus :D untuk cerpen dan novel akan saya buatkan blog sendiri. Jadi mohon ditunggu ya :D







artikelnya bagus tingkatin dengan baek !!!!
ReplyDeletejangan lupa kunjungin balik blog gw.... http://www.ommand.ga
oke thank you sakura !!!! :v