Thursday, 6 November 2014

Ruh Reformasi Indonesia

Ruh Reformasi Indonesia


“Nasionalisme itu bukan kita harus mendaftar menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, nasionalisme itu bukan kita harus terjun untuk berperang melawan penjajah. Tetapi nasionalisme itu cukup dengan kita menjunjung tinggi nama bangsa, melestarikan budaya-budaya bangsa, mencintai bangsa dengan penuh rasa bangga”

suara jam weker memperingatkan bahwa jarum jam sudah mulai menunjukkan angka 7. Terlihat sesosok lelaki yang masih tergeletak dengan selimut hangatnya tanpa perduli bahwa hari sudah siang. Jam weker berbunyi kedua kalinya, tapi bukan menunjukkan ke angka 7 lagi, sudah keangka 7 lebih 30 menit. Segera diraihnya jam itu.”Astaga mampus gue” katanya seraya bergegas mengambil handuk dan segera kekamar mandi dan bersiap untuk berangkat kuliah. Hari ini matakuliah pertama dimulai jam 08.00. 15 menit kemudian dia sudah siap dengan tas ranselnya. Dia segera berlari menuju rumah sahabatnya yang letaknya 200meter dari tempat tinggalnya.

Ditempat lain yg berjarak 200 meter itu terlihat lelaki berpakaian rapi bersama dengan Honda bututnya. Sesekali dia melihat jam tangan dan menoleh keujung jalan berharap yang dinantinya segera datang. Beberapa menit kemudian muncul lelaki sebayanya yang berlari menuju ke arahnya

Rehan : So..sorry fin, udah nunggu lama ya? (sambil ngos-ngosan dan merapikan tas kameranya)

Arifin : Ngga kok, Cuma sekitar setengah jam yang lalu. Lu kemana aja si re?

Rehan : sorry bro, biasa anak kost. Kalau ngga telat bangun ya bangunnya kesiangan (sambil     nyengir)

Arifin : Sama aja dodol ! gitu aja pengen jadi mahasiswa yang bernasionalisme, ayo cepet berangkat (menstarter motornya)

Rehan : siap bro (seraya  ikut naik di belakang arifin)

Dikampus ditempat duduk paling depan, tepat didepannya meja dosen…

Linda : ehh, uda denger berita tentang demo mahasiswa kenaikan BBM belum?                     
                           
Amel : Betul itu! Sebagai generasi muda, sebagai ruhnya reformasi, mahasiswa harus berada di baris depan. Kamu tahu nggak? Rektor itu takut sama siapa? Rektor takutnya sama mentri, mentri takut sama presiden, presiden takut sama mahasiswa dan….

Aisyah : tunggu..tunggu, kayaknya gue pernah tahu kata-kata itu deh? (memotong pembicaraan Amel)

Amel : hehe… gue ngopi kata-kata dari buku loe yang gue pinjem kemarin (sambil nyengir). Tapi emang bener kan seperti itu?

Aisyah : iya benar sekali, dunia ini sudah semakin tua. Mencari pemimpin yang baik tidak semudah zamannya rasulullah saw. Dizaman rasulullah aja juga sulit, tapi tidak sesulit sekarang

Rehan dan Arifin datang menghampiri mereka

Rehan : hayo…. Lagi ngerumpiin apa? (sambil menggebrak pelan meja)

Arifin : iya nih, serius amat. Ini masih pagi tuan putri  calon ibu-ibu pkk (ledek Arifin)

Aisyah : ehem…. Waalaikumsalam wr.wb… (setengah menyindir)

Rehan  : oh iya lupa, assalamualaikum wahai perempuan-perempuan calon penghuni surga

Aisyah dkk : Aamiin…. Waalaikumsalam wr.wb (dkk : aisyah, Linda, Amel)

Linda : salam aja lupa. Katanya ruh reformasi Indonesia?

Rehan : iya-iya sorry, pertanyaan gue dan Arifin tadi belum kalian jawab

Linda : oh…ini loh, lagi ngomongin tentang Negara kita tercinta ini. Menurut kalian bagaimana dengan Indonesia beserta pemimpinnya?

Arifin : hmm… menurut gue Indonesia semakin lama semakin tua dan menderita.

Amel : maksudnya?

Arifin : kalian tahu sendiri kan bagaimana Indonesia sekarang ini. Sebagian besar pemimpin Indonesia ini cuma obrol janji doang. Katanya ingin membuat Indonesia lebih baiklah, mensejahterahkan kehidupan bangsalah dan blablabla lainnya. Tapi nyatanya apa yang terjadi?. Sebagai contoh kecilnya saja ya, banyak sekali diskriminasi-diskriminasi masih menghantui Indonesia, terlebih diskriminasi ras yang menimpa TKI yang bekerja diluar negeri yang juga sebagai penghasil devisa negara. Padahal secara jelas dikatakan di UUD 1945 bahwa seseorang yang tinggal disuatu tempat dilarang melecehkan orang yang dipekerjakan ditempat tersebut

Aisyah : lantas apa hubungannya dengan pemimpin Indonesia yang kata kamu Cuma obrol janji doang?

Arifin : Pemimpin yang baik pasti akan melindungi rakyatnya bagaimanapun caranya sesuai dengan kesadarannya sendiri bukan karena amukan demo mahasiswa Indonesia terlebih dahulu.

Linda : iya juga sih.. akhir-akhir ini banyak sekali kasus kekerasan yang dialami TKI yang berada diluar negeri sana

Amel : bukan hanya diluar negeri. Dalam negeri juga banyak sebenarnya. Cuma nggak begitu di ekspos oleh media

Aisyah : tapi.. kita nggak boleh menyalahkan 100% kepemimpinnya dong. Mungkin saja mereka sudah berusaha, mungkin saja mereka masih memikirkan strateginya. Kasihan pak presidennya tauk. Nggak gampang loh menjadi seorang pemimpin yang harus melindungi Indonesia yang luas ini

Arifin : kita nggak menyalahkan, kita Cuma menuntut janji yang pernah dilontarkan

Amel : lagian kalau ngomongin soal gampang enggaknya jadi pemimpin itu harusnya sudah difikirkan oleh calon pemimpin. Sudah menjadi resiko dan tanggungjawab mereka kalau misalkan terjadi sesuatu dengan apa yang dipimpinnya

Rehan : sudah…sudah… kalian ini malah ngomong yang nggak jelas…

Lind : nggak jelas bagaimana? Ini tentang Indonesia.. tentang Negara kita…

Rehan : iya aku tahu, tapi apa dengan kalian Cuma ngomong begini Indonesia bisa seperti apa yang kalian harapkan? Apa yang kita harapkan?. Sadar nggak kita cuma ngomong, ngomong dan ngomong. Katanya ruh reformasi? Kalau Cuma ngomong dan mengkritik doang semua orang bisa. Bahkan pemimpin kita. Kita sebagai ruh reformasi harus bertindak juga jangan hanya ngomong. Masih ingat semboyan “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” kan?

Aisyah : noh, betul tuh kata Rehan..

Arifin : hmm… kalau berbicara tentang politik dan Indonesia pasti akan ada pro dan kontra (ketawa kecil)

Linda : yups… yang pasti gue setuju apa kata Arifin dan Rehan

Amel : ehh… sebentar-sebentar, ngomong-ngomong ini jam berapa sih? Kok dosennya belum datang-datang??

Arifin : jam 09.17.. (sambil melihat jam tangan)

Rehan : ini nih contoh ruh reformasi gagal. So, jangan hanya pemimpinnya saja yang dikeroyok sama kritikan-kritikan. Rakyatnya saja juga belum beres..

Aisyah  : termasuk kita juga dong?

Semua : hahaha….

Amel : yasudah yuk, kita ke perpus

Aisyah : ide bagus…

Mereka berlima pun pergi ke perpustakaan kampus. Sesampai di perpustakaan, mereka bukannya membaca buku, melainkan melanjutkan tentang obrolan mereka dikelas tadi.

keesokan harinya, mereka sengaja jalan-jalan sore untuk menghilangkan penat akibat tugas kampus. Ditengah-tengah perjalanan, mereka melihat sebuah partai pendukung calon presiden sedang berpidato serta membagi-bagikan sembako dan berharap  rakyat memilih calon presiden yang didukungnya.

Rehan : tuh liat. Bagaimana Indonesia bisa maju kalau begini caranya

Amel : benar sekali, rakyat menginginkan pemimpin yang baik. Tapi bagaimana bisa jika hak pilih mereka bisa dibeli semudah itu?

Aisyah : dewasa ini, untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus mengeluarkan dana ratusan juta bahkan milyaran agar bisa dipilih oleh rakyat

Arifin : maka dari itu, kita sebagai ruhnya reformasi harus bisa menggunakan hak kita sebaik-baiknya

Linda : betul tuh jangan sampai GOLPUT, haha

Rehan : ya.. semoga Indonesia memperoleh pemimpin yang bisa memimpin Indonesia dengan sebaik-baiknya

Aisyah  : pemimpin yang bisa diandalkan tentunya..

Linda  : pemimpin yang patut dan berpedoman..

Amel  : bukan pemimpin yang Cuma obral janji doang..

Arifin : Aamiin… nah, yuk kita belajar yang sungguh-sungguh. Agar kelak kita bisa menjadi pemimpin dambaan rakyat Indonesia. Kita tingkatkan nasionalisme serta patriotisme kita. Bagaimanapun Indonesia juga butuh kita, sang ruh reformasi.

Aisyah  : Ruh Reformasi Indonesia dari Indonesia dan tentu untuk Indonesia pula

Rehan  : iya… Ruh Reformasi Indonesia adalah generasi-generasi penerus bangsa

Linda : yuk kita ucapkan sama-sama isi pidato kita yang kemarin, masih ingatkan??

Arifin : masih dong…

Semua : “Kita adalah generasi penerus bangsa yang akan selalu menjunjung makna budaya, kita adalah generasi penerus bangsa yang berbhineka, kita adalah generasi penerus bangsa yang akan selalu menatap kedepan, melangkah kesamudra kebebasan tak takut akan badai yang menghadang , tak takut peluru menembus badan, tak takut akan harimau yang menerkam karena aku adalah generasi penerus bangsa sang Ruh Reformasi Indonesia”

-tamat-



This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment

Silahkan post komentar teman-teman, dengan sangat senang hati jika teman-teman juga mau berbagi pengalaman dengan saya dan pembaca lainnya ^_^