Friday, 18 March 2016

Dream!



"Jangan menangis, Livi" Ucapku seraya menghapus buliran kristal yang mengalir dipipi wanita yang senyumnya ibarat surga itu.

"Jangan tinggalkan aku sendiri, Rafe.... Aku..." Kulihat buliran kristal itu makin mengucur dengan derasnya.

"Tidak, kau tidak akan sendiri, Livi. Aku pasti akan kembali nanti jika sudah saatnya tiba" Ucapku sambil tersenyum, mencoba berkata kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"TIDAK! Aku takut.. takut kalau kau tak akan kembali lagi disini, memelukku dan mendengarkan imajinasi-imajinasi konyol yang terus meluber ini sambil memelukku. Ah tidak bukan itu maksudku, aku.. aku... pokoknya aku ingin kau tetap disini bersamaku. Jadi, jangan pergi Rafe" isaknya sambil melihatku dengan mata binar senduhnya, membuat dadaku sesak tertusuk. 

Aku pun hanya menjawabnya dengan senyum, senyuman yang sangat tulus, senyuman kehangatan yang aku harap mampu memeluknya sampai dia tertidur. 

"Rafe, aku sayang kamu, jadi tolong, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku sendiri. Janji?" pintanya dengan isakan manja.

"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Livi. Tetapi untuk sementara ini, aku akan menemanimu disini, aku akan datang jika saatnya sudah tiba. Bersabarlah, karena aku selalu ada disini" jawabku seraya menunjuk dadanya. 

"Tapi, siapa yang akan mendengarkan semua imajinasiku, khayalanku, cerewetku, yang memelukku, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja? Siapa? Rafe, please, jangan pergi..." Dia masih terisak, ahh, sungguh membuat dadaku tertusuk. 

Dan lagi-lagi aku hanya menjawabnya dengan senyuman, membelai rambutnya yang indah, mendekapnya dengan perlahan sambil menikmati birunya langit siang ini. Livi, kau wanita aneh, wanita dengan sejuta imajinasi konyol, wanita yang segimanapun sakitnya tetap selalu menorehkan senyum. Wanita hebat. 

Mungkin terlalu lama aku mendekap dan membelai rambutnya hingga dia tertidur. Saatnya aku pergi, sejujurnya tak tega meninggalkannya sendiri disini. Maafkan aku, Livi. Kita akan bertemu lagi, cepat atau lambat. 

"Aku juga sayang kamu, jaga diri baik-baik, tetap tebarkan senyuman ya? Sampai jumpa hingga saat kita dipertemukan lagi dan dipersatukan selamanya. Mimpi indah, Livi" Ucapku seraya mengecup keningnya. 


Braaaaakk.. krompyang.... 

Suara apa itu??? Ah tidak, jam berapa ini? Hah? jam 5 pagi??? Jadi aku tadi mimpi?? Dan aku benar-benar menangis??

"Rafe.. benarkah? Kenapa jadi mimpi tokoh cerpenku? Tapi, sampai jumpa Rafe dunia mimpi, aku tunggu Rafe dunia nyata disini. Mimpi yang indah..." 

Aku pun bangkit dan mengambil handuk, dan segera menuju kamar mandi, keburu subuhku dipatok ayam nanti, hahaha. 

Belum sampai 5 langkah, aku kembali ke kamar, aku ada janji untuk membangunkan seseorang. Apa dia sudah bangun? Chat apa yang harus aku mulai? Ah, seperti biasanya saja. 

Ping!!!
Ping!!!
Ping!!!
Aku kesiangan... :'( :'( :'( 
Alarmku tak senyapkan ternyata :'( 

See you in another dream, Rafe atau siapapun itu :) 
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment

Silahkan post komentar teman-teman, dengan sangat senang hati jika teman-teman juga mau berbagi pengalaman dengan saya dan pembaca lainnya ^_^