source: gambarwallpaper.fondecrandhd.net
Bagiku cinta itu seperti lokomotif, dimana untuk menggerakkannya membutuhkan masinis yang bernama "debar". Ada yang bilang Cinta adalah reaksi biokimia yang terjadi karena adanya hormon oksitoksin, reaksi seperti pemrogaman otak agar merasa nyaman satu sama lain. Jika oksitoksin mencapai level tertentu, maka cinta bisa terjadi antara dua lawan jenis. Lantas, kapan aku akan mengalami masa itu?
***
“Selamat
pagi Livi, selamat pagi dunia~” Gumamku sambil membuka gorden
jendela yang sudah mulai usang termakan waktu.
“Ahh..
segarnya...” Sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi buka jendela
kamar, menghirup oksigen yang masih bercampur dengan bau embun pagi
hari. Ini kebiasaan lama yang tidak pernah seharipun aku tinggalkan.
Namaku
Livi. Yapp, orang tuaku hanya memberiku nama Livi. Setiap aku
bertanya apa arti nama ini, papa selalu bilang,
“Livi
itu plesetan dari kata Love. Mamamu dulu mau memberi kamu nama Love,
tetapi setelah difikir-fikir agak alay, maka diplesetin jadi Livi”
Ahh
entahlah apa yang mereka fikirkan. Memberi nama anaknya dari hasil
plesetan. Ini bukan arena bermain bukan? Padahal kalau mereka memberiku
nama Love kan jadi enak. Maksudnya,
meskipun aku jomblo alias single alias nggak punya pacar, setidaknya
setiap hari ada yang memanggilku ”cinta”, hahaha.
Hari
ini hari senin, hari dimana menjadi momok bagi sebagian murid yang
masih duduk dibangku sekolah. Aku? Ya tentu saja aku malas
melangkahkan kaki ini ke depan gerbang bangunan tingkat 5 itu. Tetapi
hari ini ada mata kuliah yang harus aku ikuti. Mata kuliah dari dosen
paling galak yang pernah ada.
“Ma...Pa..
Livi berangkat.” Kataku setengah berteriak sambil menjinjing buku
jimat alias buku catatan harian yang setiap hari harus aku bawa. Dan
tak ada jawaban yang aku terima.
“Astaga..
mama sama papa kan masih di Singapura. Baka!” Gumamku sambil
berlalu meninggalkan rumah.
Jarak
antara rumahku dan kampus lumayan jauh sekitar 40 menit jarak tempuh
dengan berjalan kaki. Aku lebih menyukai berjalan kaki dibandingkan
dengan memakai kendaraan umum maupun pribadi. Karena ada satu tempat
yang setiap pagi harus aku kunjungi demi mendapatkan mood harian yang
baik.
Tempat
itu sebuah danau yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Setiap hari aku mampir dan setiap hari pula aku duduk di kursi taman
yang sama. Seolah kursi itu sudah ditetapkan menjadi kursi milikku.
“Ahh..
indahnya.. semoga tidak ada perusak pemandangan ya pagi ini”
Asal
kalian tahu, banyak sekali perusak pemandangan di danau ini. Mulai
dari sampah yang mengambang hingga muda-mudi pacaran. Meskipun
suasana masih terlalu pagi untuk berkencan.
Danau
ini mempunyai banyak kenangan. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan
kaki di area danau ini adalah saat aku masih duduk di kelas 2 SMP.
Tepat setelah aku mengetahui cinta pertamaku pindah sekolah. Mungkin
penunggu danau ini sudah bosan melihatku curhat, melamun, nangis,
ketawa nggak jelas hingga tertidur di kursi sepanjang 1meter ini.
“Tin..tin..”
Suara klakson kendaraan membangunkan lamunanku. Kulirik ponselku
“Astaga sudah jam segini, mampus!” Gumamku seraya bangkit dan
buru-buru lari.
“Eh,
wanita danau, buku kamu jatuh” Teriak seorang lelaki sambil berlari
mengejarku yangg sudah menjauh dari danau itu.
“Hah?
Apaan?”
“BU-KU-KA-MU-JA-TUH”
Teriaknya lagi sambil ngos-ngosan sambil mendekat kearahku.
“Nih,
lain kali jangan suka molor di danau, kesambet baru tau rasa, bye
wanita danau” Ucapnya sambil menyerahkan buku jimatku. Belum aku
berucap terimakasih dia sudah berlari lagi menuju danau.
“Dia
tadi bilang apa? Wanita danau? Hah?” Gumamku sambil melihat
punggungnya yang semakin menjauh itu. “Apalah itu, yang penting
sekarang harus masuk kelas sebelum pak kumis itu keluar tanduknya”
Lanjutku seraya mengeluarkan semua tenaga untuk berlari lagi.
Sering
aku dimarahi mama hanya karena aku tidak mau dibelikan kendaraan
pribadi dan lebih memilih berangkat ke kampus dengan jalan kaki dan
lari. Mereka tidak memahami betapa nikmatnya jalan kaki ataupun lari.
Mereka berfikir aku ini anak perempuan mereka yang paling aneh.
Apapun itu, aku menikmati jalan hidup yang aku pilih ini.
“Braaakkk...”
Benturan keras akibat dari lari yang tidak konsen.
“Arrgghhh...
kakiku...."
Ternyata
aku menabrak seorang lelaki terlalu keras hingga mengakibatkan kaki
lelaki itu patah tulang. Meski jiwaku wanita, tetapi badanku lelaki,
wah kereeen ya? Eh tunggu, ini bukan saatnya untuk mengagumi diri, Livi.
"Eh,
so..sorry, kamu nggak papa?"
"Belagu
lo ya, udah jelas teman gue kesakitan, udah jelas kakinya melintir
gitu, lo masih nanya nggak papa?"
Dan
lelaki berparas tinggi dekat lelaki yang kutabrak tadi mulai ngomel.
Benar juga sih, mengapa aku mengajukan pertanyaan retoris?
"Sorry
ya, sorry banget.. aku lagi buru-buru tadi, ini kartu namaku, tolong
bawa temen kamu ini ke rumah sakit, nanti kabari ya? Mattane~"
"Eh,
cewek gila, lo tanggung jawab dulu! woooyyyyyy!!!"
Tak
kuhiraukan teriakan lelaki itu. Yang penting kan aku sudah ngasih
kartu nama. Mana ada orang tidak bertanggungjawab bertindak seperti
itu?
"Awas
ya kalau ketemu tuh cewek lagi! eh lo nggak papa, Rafe?"
Brakk,
buku mendarat dikepala Rosi.
"Lo
udah tau masih nanya!"
"Eh,
maaf-maaf.."
"Yaudah,
sekarang anterin gue ke rumah sakit" Kata Rafe sambil mengambil
secara paksa kartu nama Livi. "Livi, lo harus balas semua ini"
Lanjutnya dalam hati.
***
Bagiku,
pak kumis lebih menakutkan daripada kedua lelaki tadi. Mata kuliah
beserta tugas seabrek ini lebih penting daripada kedua lelaki itu.
Lagian salahnya sendiri jalan juga nggak lihat-lihat.
Aku
berfikir bahwa lelaki yang kutabrak tadi hanyalah mahasiswa biasa
sepertiku. Hingga pada akhirnya aku terperangkap kedalam lubang
penyiksaan yang tak pernah kulupakan. Tak kan pernah!
Bersambung~~~~~
*Mattane = sampai jumpa
P.s
: Hai guys, tunggu bagian/part II nya ya? Jangan lupa komennya ^_^ Xoxo~







0 comments:
Post a Comment
Silahkan post komentar teman-teman, dengan sangat senang hati jika teman-teman juga mau berbagi pengalaman dengan saya dan pembaca lainnya ^_^